Home BandarlampungOpini : Perang AS-Israel Vs Iran; Pertanda Runtuhnya Dominasi Negara Zionis?
Spread the love

LAMPUNG, PUBLICJOURNALNEWS.COM –
Oleh : Bustami

  • Mahasiswa Universitas Indonesia Mandiri
  • Prodi Administrasi Publik

Berdasarkan sejarah yang kita ketahui, konfrontasi antara poros Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Republik Islam Iran telah berevolusi dari sekadar ketegangan diplomatik menjadi poros stabilitas yang menentukan wajah Timur Tengah.

AS dan Israel, dalam upaya mempertahankan status quo dan keamanan nasionalnya, berhadapan dengan Iran yang berusaha melakukan akumulasi kekuatan guna mengimbangi hegemoni Barat.

Namun, realitas konflik ini tidak hanya dibangun di atas tumpukan hulu ledak saja, tetapi juga di atas persepsi para penguasa dunia.

Dalam era globalisasi di mana informasi menyebar secepat kilat, konstruksi identitas ‘musuh’, sebuah kondisi di mana rasa takut diproduksi secara massal dan digunakan sebagai instrumen politik untuk membenarkan tindakan-tindakan luar biasa diluar koridor hukum internasional konvensional.

Pengaruh Politik dan Keamanan :
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak lahir begitu saja, melainkan berakar pada benturan kepentingan strategis yang mendasar.

Ketidakpastian mengenai niat sebenarnya memicu lingkaran ketegangan, langkah defensif Iran direspons dengan sanksi dan peningkatan militer, yang kemudian mendorong Iran memperkuat diri lebih jauh.

Hasilnya adalah perlombaan senjata tanpa akhir, di mana keamanan satu pihak berarti ketidakamanan bagi pihak lain.

Selain itu, Iran yang memiliki keterbatasan militer konvensional mengadopsi strategi pertahanan lini depan dengan memanfaatkan kelompok proksi seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi.

Persaingan juga berlangsung di titik-titik strategis perdagangan energi dunia, terutama Selat Hormuz dan Bab al-Mandab. Posisi geografis ini memberi Iran daya tawar politik yang besar, karena gangguan terhadap jalur tersebut dapat mengancam keamanan energi Israel sekaligus stabilitas ekonomi global.

Dengan demikian, konflik ini bukan hanya soal ideologi, tetapi juga perebutan kendali atas sumber daya dan arus ekonomi internasional.

Secara akademis, penggunaan senjata siber menandai pergeseran dalam definisi kedaulatan negara. Pelanggaran terhadap batas wilayah tidak lagi dilakukan oleh tank atau personil militer, melainkan oleh kode biner yang menembus sistem keamanan paling ketat sekalipun.

Serangan drone Iran ke Israel serta balasan militer Israel dengan dukungan teknologi AS menunjukkan runtuhnya tabu konfrontasi langsung.

Kondisi ini memperumit atribusi serangan dalam hukum internasional, karena sulit menentukan siapa yang bertanggung jawab, apakah negara sponsor atau kelompok proksi.

Dampak Multidimensi Perang AS-Israel vs Iran :
Konflik antara AS-Israel dan Iran bukan sekadar perseteruan regional, melainkan pemicu perubahan besar dalam struktur keamanan dan ekonomi dunia dengan aliansi yang mencakup aspek militer, ekonomi, dan teknologi.

Dampaknya adalah pelanggaran hak asasi manusia secara masif, dengan warga sipil menjadi korban utama. Lemahnya otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menegakkan hukum humaniter menunjukkan krisis legitimasi lembaga multilateral.

Ketidakpastian di Teluk Persia juga menekan stabilitas ekonomi dunia. Ancaman penutupan Selat Hormuz atau eskalasi militer langsung memicu lonjakan harga minyak global, menciptakan inflasi sistemik yang paling membebani negara berkembang.

Akhirnya, jika komunitas internasional tetap terjebak dalam paradigma realisme sempit yang hanya menekankan kekuatan fisik, maka perdamaian di Timur Tengah akan tetap menjadi utopia.

Dan apakah perang ini pertanda Runtuhnya Dominasi Israel (Zionis)?. Bila kita tela’ah dari sumber agama Islam, yakni Al-Qur’anul Karim; berikut kajian para Ahli Tafsir.

Dalam sebuah kajian yang tayang di kanal YouTube Santri Ngaji Online, Ustaz Adi Hidayat membahas konflik tersebut dari sudut pandang Al-Qur’an dan sejarah panjang Bani Israil.

Ia menekankan bahwa Al-Qur’an telah menggambarkan karakter dan pola perilaku generasi tertentu yang berulang dalam sejarah.

Ustaz Adi Hidayat mengutip Surah Al-Isra ayat 4–7 yang menyebutkan bahwa Bani Israil akan membuat kerusakan di muka bumi sebanyak dua kali dalam skala besar. Menurutnya, para ulama tafsir klasik hingga kontemporer telah membahas dua fase tersebut sebagai kerusakan global, bukan sekadar lokal.

UAH sapaan akrabnya, menyebut sejarah mencatat beberapa fase kehancuran besar yang menimpa Bani Israil, mulai dari era Jalut (Goliath), serangan Nebukadnezar dari Babilonia, hingga periode kekuasaan Romawi.

Ia mencontohkan kepemimpinan Islam pada masa Umar bin Khattab dan Salahuddin al-Ayyubi yang memberi jaminan keamanan bagi berbagai komunitas, termasuk Yahudi dan Nasrani, ketika menguasai Yerusalem. “Islam datang bukan dengan kutukan, tapi dengan solusi dan keadilan,” tegasnya.

Terkait perang Iran dan Israel/AS saat ini, UAH tidak secara eksplisit menyebutnya sebagai tanda pasti akhir zaman. Namun ia mengingatkan bahwa pola konflik dan dukungan global terhadap satu pihak telah lama dijelaskan dalam nash. Baginya, yang terpenting bukan berspekulasi soal kiamat, melainkan memperbaiki kualitas iman, memperkuat literasi sejarah, dan menjaga persatuan umat.

“Kalau iman benar, Allah jaga. Yang tandus bisa jadi makmur. Tapi kalau rusak, sekaya apa pun negeri itu bisa hancur,” tuturnya.

Wallahu a’lam bish-shawab (وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ)
“Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya”. (Red)

Related Articles

Leave a Comment