LAMPUNG, PUBLICJOURNALNEWS.COM – Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda terus mengalami erupsi sejak Jumat (04/09) malam hingga Sabtu (05/09) pagi, dengan aktivitas berupa semburan lava pijar ‘yang menyerupai air mancur’, menurut Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sejumlah instrumennya merekam aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama dengan laporan dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di Bandung Raya. Namun lembaga tersebut tak bisa memastikan bahwa erupsi berhubungan dengan dentuman tersebut.
Sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengatakan, berdasarkan pengalaman erupsi Anak Krakatau pada 2020 dan Gunung Kelud pada 2014 yang suara dentumannya terdengar hingga jarak jauh, erupsi Anak Krakatau tetap merupakan salah satu kemungkinan penyebab dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat, pada 4-5 September 2026.
Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, erupsi yang dimulai Jumat, pada pukul 23.07 WIB masih berlangsung hingga 04.40 WIB, disertai suara gemuruh yang terdengar dari pos pengamatan gunung api di Pasauran, Banten.
Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga).

Suwarno, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, menyatakan, erupsi masih berlangsung hingga Sabtu sore, pukul 16.17 WIB.
“Erupsi sudah berkurang, ini masih terus erupsi tapi berkurang,” kata Suwarno pada jurnalis Robertus Bejo yang melaporkan untuk BBC Indonesia.
Dengan aktivitas gunung berapi ini, Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengimbau masyarakat untuk tidak mendekat dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta untuk mewaspadai ancaman bahaya awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Sementara itu, di wilayah Banten, Jawa Barat, dan Lampung, dilaporkan terdengar suara dentuman dan getaran yang dirasakan sebagian warga. Namun belum ada konfirmasi dari Badan Geologi mengenai laporan tersebut dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Hingga Sabtu (05/09) aktivitas erupsi dilaporkan masih berlangsung. Badan Geologi menyatakan belum terdapat indikasi peningkatan risiko tsunami.
Menurut hasil evaluasi terbaru, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi dan longsoran besar pada Desember 2018, masih relatif kecil dan tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Namun, otoritas menegaskan bahwa perkembangan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi gunung terus dipantau secara intensif.
Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang tumbuh di kawasan Selat Sunda, lokasi yang dikenal karena letusan dahsyat Krakatau pada 1883.
Gunung ini juga mengalami longsoran sebagian tubuh gunung pada Desember 2018 yang memicu tsunami di sekitar Selat Sunda.
Sejak kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada 2 Juli 2026, Anak Krakatau berada pada status Siaga dan terus memperlihatkan aktivitas vulkanik berupa erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik.
Otoritas vulkanologi menyatakan erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau, masih berada dalam karakteristik aktivitas yang umum terjadi.
Mereka menambahkan, pemantauan intensif akan terus dilakukan selama aktivitas berlangsung.

Terpantau juga, masyarakat yang ada di seputaran Lampung Selatan, dari jalanan hingga halaman rumah dipenuhi dengan debu vulkanik hingga Sabtu malam (5/9).
Hingga Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menghimbau kepada masyarakat, agar mengurangi aktivitas diluar luar. Kalaupun harus beraktivitas diluar rumah harus mengenakan masker, kacamata, helm, dll. Tetap waspada dan selalu hati-hati. */Red)
